Zat Kimia pada Makanan, dan Solusinya

Kimia Tahukah Anda Zat Kimia pada Makanan? Ketika kasus Indomie mencuat ke publik. Masyarakat mulai kritis bertanya mengenai zat kimia pada makanan yang aman dikonsumsi. Segala jenis merk produk apap un sekarang akan sulit mengelak dari zat kimia makanan.

Pencampuran zat kimia dibutuhkan semisal untuk penguat rasa, pengawet, dsb. Dalam takaran (dosis) tertentu hal itu diperbolehkan. Namun, sifat zat kimia yang bisa merusak akan fatal jika dilakukan secara rutin.

Polemik Indomie

Zat kimia makanan yang terkandung dalam Indomie jadi sorotan pemerintah Taiwan karena diduga melanggar ambang batas zat kimia di negara tersebut. Terlepas dari motif perang dagang atau perang merk. Persolan zat kimia makanan harus dilihat secara jernih.

Memang badan standar dunia semisal CODEC telah menetapkan ambang batas zat kimia dalam produk. Namun, seperti yang disuarakan kalangan dokter kritis bahwa penggunaan zat kimia memang sifatnya membahayakan tubuh.

Bahkan CEO PT. Indofood pun ketika diminta konfirmasi media mengakui pemakaian mie instan harus dibatasi. Artinya jangan kelewat sering. Karena sesuatu yang berlebihan akan membuat tubuh rusak. Berkaca dari polemik Indomie membuat mata publik mulai mencerna hal ihwal mengenai zat kimia makanan.

Dalam ruang diskusi, diskursus, atau perdebatan semoga publik mendapat hikmah yang dapat diambil. Kelak, publik mesti tahu penggunaan zat kimia makanan yang normal.

Solusi

  • Payung hukum. Pemerintah dan DPR harus berbenah serius mulai dari produk legislasi yang dihasilkan. Undang Undang mengenai zat kimia makanan ini harus jelas. Tidak sebatas peraturan pemerintah. Payung hukum berguna untuk jadi pedoman pelaku bisnis sekaligus masyarakat dalam mencermati fenomena dinamis pemakaian zat kimia makanan.
  • Sosialisasi. Selama ini yang terlihat getol melakukan kampanye ialah LSM semacam Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Di mana peran pemerintah? Seharusnya aktivasi fungsi menteri perdagangan atau menteri kesehatan dalam memberi penjelasan ke publik digiatkan. Sosialisasi ini bisa menyasar ke lingkup kecil semisal RT/ RW. Lingkup makro bisa via media.
  • Komitmen pengusaha. It takes two to tango. Penyelewengan zat kimia makanan terjadi dua arah. Konsumen dan pengusaha. Jika saja pengusaha mau berkomitmen untuk jujur dalam pemakaian zat kimia makanan yang berlebihan ini akan menjadi tren positif.
  • Shock therapy. Bagi produk makanan yang melanggar sebaiknya diberi shock therapy. Ini penting mengingat produk sejenis agar tidak ikut ikutan meniru perilaku demikian. Tanpa shock therapy yang ampuh perilaku bisnis demikian akan langgeng subur di bumi pertiwi.

Tinggalkan komentar

Filed under Kimia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s