Pelajaran Matematika Susah Karena Menggunakan Otak Kiri

Matematika Tahukah Anda Pelajaran Matematika Susah Karena Menggunakan Otak Kiri? Pelajaran Matematika susah karena banyak menggunakan otak kiri. Coba kalau pakai otak kanan atau keduanya, pelajaran Matematika pasti akan lebih mudah.

Otak Kiri dan Otak Kanan

Penggunaan otak kiri yang lebih memfokuskan pada data linear dan membuat pembelajaran lebih menekan dinding-dinding otak kini sudah mulai diseimbangkan dengan penggunaan otak kanan yang lebih kreatif dan mulai ingin mendapatkan eksistensi lebih banyak.

Matematika yang lebih banyak menekankan penggunaan otak kiri terbukti telah membuat pelajaran ini menjadi momok yang sangat tidak menyenangkan. Belajar Matematika sambil bermain yang dikaitkan dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari membuat peserta didik menyadari betapa pentingnya mempelajari Matematika. Mereka jadi tahu bahwa Matematika dapat mempermudah kehidupan mereka.

Misalnya, anak kelas satu sekolah dasar mulai belajar menghitung dengan memperhatikan semua benda yang ada di ruang kelas dan di luar kelas. Perintah yang dipakai guru pun lebih membumi. “Anak-anak, menghitung jumlah pohon di luar, yuk!” Anak yang kreatif malah ada yang bertanya, “Pohon yang kecil atau pohon yang besar, Bu? Pohon berdaun lebar atau pohon berdaun kecil?”

Pertanyaan dari anak-anak itu membuktikan bahwa pikiran kritis itu muncul ketika anak dibawa menggunakan otak kanannya lebih banyak sehingga belajar tidak menjadi tekanan. Bila guru menjawab bahwa yang dihitung adalah jumlah pohon berdaun kecil-kecil saja, bayangkan saat di luar salah satu anak bertanya, “Boleh tidak menghitung semua jumlah pohonnya?” Inilah pertanyaan yang menunjukkan bahwa keinginan belajar yang lebih telah tumbuh di hati anak tersebut.

Pengurangan

Konsep pengurangan agak susah bila guru langsung memberikan rumusannya. Namun, jika anak-anak diminta berbaris, lalu jumlah barisan dikurangi satu per satu, anak bisa melihat konsep itu dengan lebih nyata. Setelah itu, suruhlah mereka berbelanja di koperasi sekolah. Mintalah membeli barang yang harganya lebih murah dari jumlah uang yang mereka punya.

Setelah anak mengenal bagaimana menggunakan konsep pengurangan dalam kehidupan sehari-hari, barulah guru menerangkan lambang dan cara proses pengurangan dijalankan.

Perkalian

Perkalian tentu lebih susah dibanding penjumlahan dan pengurangan. Awal pengenalan bisa dengan cara menghitung jumlah keramik ruangan. Setelah itu, anak diberi pekerjaan rumah menghitung jumlah keramik di kamar tidurnya, kamar tidur orangtua, kamar tidur saudara, keramik yang ada di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, di teras, di ruang keluarga, dan di ruangan lain.

Setelah memeriksa jawaban anak, guru bertanya apakah anak merasa capek menghitung begitu banyak keramik di rumah. Dari jawaban anak, guru dapat memberikan cara yang lebih mudah menemukan berapa jumlah keramik di suatu ruangan dengan cara mengalikan tiap-tiap baris keramik.

Bila proses perkalian ini tetap susah, guru mencari cara lain yang intinya tidak terlalu membuat anak menggunakan otak kirinya. Misalnya, dengan menerangkan bahwa 12 itu tidak hanya dihasilkan dari 8+4, 9+3, 13-1, dan lain-lain. Namun, 12 juga bisa dari 3×4. Guru bisa menggunakan bola kecil-kecil, pesil, pena, atau alat bantu mengajar lainnya. Alat bantu ini dapat membuat anak menangkap pelajaran lebih cepat.

Tinggalkan komentar

Filed under Matematika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s